Sabtu, 17 September 2011

Kunamai Dirimu RANA INAS YOTTI



Kau mulai mengenal dunia pada Sabtu 17 September 2011 pukul 11.40 WIB. Jangan kaget dan jangan terkesima anakku. Banyak pilihan yang terhampar di dunia ini. Namun saya hanya berharap pilahlah yang terbaik untuk kemudian kamu pilih menjadi pedoman hidupmu.

Karena itu aku lantunkan adzan di telinga kananmu. Aku suarakan iqomah di telinga kirimu. Ayah hanya berharap kamu mengenal kebesaran Tuhanmu sebelum kamu mengenal lainnya. Karena Dia-lah yang maha Agung yang mengatur segala yang terhampar di langit dan bumi. Bertasbihlah anakku pada Tuhan mu, Allah SWT.

Aku juga berharap kelak kamu mempunyai paras yang elok serta indah dipandang dan memandang. Kamu harus mempunyai kearifan anakku. Karena dunia ini memerlukan sebuah kearifan dalam menjalaninya. Tidak hanya itu aku juga berharap hatimu terselimuti kebaikan dan sikap santun terhadap semua maklhuk Allah. Karenanya aku beri engkau nama RANA INAS YOTTI. Aku juga menyematkan kata YOTTI biar kelak kamu ingat bahwa benihmu berasal dari tulang sulbi milik SUYONO STP yang kemudian disimpan dalam rahim TITIN RATINI....

Kamu terlahir dalam keadaan putih bersih seputih kertas dan salju. Karena Allah sudah mengkodratkan setiap insan yang lahir ke dunia dalam keadaan fitrah. Saya sebagai ayahmu sangat bertanggung jawab apa-apa yang akan mewarnai kertas putih itu anakku. Karenanya jadilah muslimah sejati. Jadilah insan yang selalu menggunakan tolok ukur perilaku karena mencari ridlo Allah SWT dalam rangka ibadah. Wama Qolaktul Jinna Wal Insan illa liya'budun.....Mudah-mudahan dalam tidurmu kamu mendapat hidayah dan ilham dari Allah SWT anakku....

Senin, 30 Mei 2011

Mengasah Kepedulian....



Tadi pagi saya ketemu seorang lelaki yang sudah uzur namun begitu tegar menantang hidup. Matanya cekung. Nafasnya tersengal karena usia yang tak lagi muda. Meski begitu semangatnya untuk tetap hidup menjadikannya tetap tegar mengkais rezeki dengan mengkais sampah memilah sesuatu yang bisa ditukar dengan rupiah.

Aku dekati lelaki tua itu. Aku tanya tinggal dimana. Dia menjawab tinggal di sebuah rumah yang sederhana bersama istri dan dua anaknya di sebuah kampung di batu sembilan. Semua dia lakukan karena memang dialah satu-satunya urat nadi keluarga. Lengan dan kakinya yang sudah mulai rapuh. Siang itu matahari juga begitu teriknya. Namun dia tak peduli. Baginya hidup harus terus berlangsung meski harus menantang matahari. "Ini saja yang bisa saya lakukan dik. Kerja berat bapak sudah nggak bisa lagi. Saya hanya bisa mensyukuri apa yang bisa saya lakukan dan saya dapatkan hari ini," katanya sambil menyeka peluh yang membasahi dahinya.

Aku teringat lelaki tangguh yang telah membesarkanku dulu. Bagaimana dengan ketegaran hidupnya dia rela menghabiskan seluruh umurnya dengan memeras keringat demi anak-anaknya tercinta. Ayahku, kini aku tahu bagaimana beratnya sebuah tanggungjawab yang harus dipikul dalam menjaga kelangsungan hidup sebuah keluarga.

Lelaki tua tadi adalah potret hidup ayah-ayah kita. Potret sebuah komitmen terhadap pelita jiwa. Aku dekati lelaki itu dan aku buka dompetku. Uang seratus ribu satu-satunya yang tersisa aku selipkan di sakunya. Aku hanya berharap dengan rasa syukur yang dia miliki Tuhan memberikan sebuah kebijaksanaan yang membuatnya tetap optimis memandang hidup....

Jumat, 06 Mei 2011

ENTAHLAH.....


Entahlah.....
Kering sudah kerongkonganku meneriakan berbagai ketimpangan
Kering sudah air liurku mengeja satu-satu nasib mereka yang terpinggirkan
Tapi jawabmu hanya sebuah kata manis penuh kepalsuan

Aku harus bagaiamana biar kamu mengerti
Kujelaskan dengan kata kamu tak memberi asa
Kujelaskan dengan realita katamu aku hanya sandiwara

Entahlah....
Aku sudah tak bisa lagi memberimu gambaran
Tentang kaki-kaki legam yang termakan jaman
Tentang bibir-bibir pucat yang mengharap suapan
Karena hati dan jiwamu nampaknya sudah tertutup keserakahan
Matamu tak lagi bisa melihat mereka yang berbaur dengan jelaga
Kamu hanya bisa melihat gemerlap dan pesta-pesta...

Selasa, 14 September 2010

KULO SERAHNE GUSTI ALLAH MAWON



Wajahnya cekung. Jalannya sudah mulai membungkuk maklum usia sudah mulai renta. Di Desa Klisat, Pundong, Bantul, orang-orang biasa memanggil Mbah Dowi. Guratan wajahnya yang keriput Mbah Dowi tidak terlalu risau dengan dunia gempa di desanya. Maklum hampir setiap bulan ada saja gempa yang dia rasakan. Dia tidak panik. Dia tidak takut. Dia jadikan gempa sebagai isyarat untuk lebih dekat dengan Tuhan.


Gempa tektonik super dahsyat 4 tahun lalu telah melenyapkan segalanya. Tidak hanya rumahnya yang besar tetapi juga anak dan keluarganya. Bahkan tragedi gempa Bantul itu juga telah menghilangkan rasa takut itu sendiri. "Kulo mboten ajrih koq nak. Sampun biasa. Kulo namung pasrah margi pejah gesang meniko sampun dipun garis dening Gusti Allah. Kulo serahne Gusti Allah kemawon (Saya tidak takut akan gempa Nak. Sudah biasa. Saya hanya pasrah karena hidup mati sudah diatur oleh Allah SWT. Saya serahkan pada Allah SWT saja)," ujar Mbah Dowi lirih. Yang tersisa dari hidupnya sekarang hanya sebuah kepasrahan.

Kini mbah Dowi hanya menempati rumah sederhana bantuan dari pemerintah. Hari-harinya dia isi dengan menggembala kambing yang juga merupakan nafas hidupnya selain sepetak sawah. Namun dia tidak pernah mengeluh dengan gempa yang telah meluluhlantakan hidupnya. "Sedoyo meniko namung titipan. Lha sewanci-wanci badhe dipun pundhut dening Gusti Allah mboten wonten ingkang saget suloyo (Semua ini kan hanya titipan. Sewaktu-waktu mau diambil oleh Allah SWT tidak ada yang bisa mencegah)," katanya.

Bagi saya masalah Gempa memang juga bukan sesuatu yang asing. Karena saat gempa dahsyat Mei tahun 2006 lalu saya ada di Bantul. Saya merasakan bagaimana bumi seperti dihempaskan dengan suara gemuruh yang menakutkan.

Saya juga ingat bagaimana gempa 5 skala richter pada Minggu kemarin mengagetkan kami yang terlelap. Suara gemuruh disertai goncangan kuat telah membangunkan tidurku. Saya peluk anak saya yang bungsu sambil menggeret istri ke luar rumah. Yayan dan Iqbal, anak saya yang sulung dan nomor dua, dipelukan neneknya sambil menangis. Tetangga semua lari ke luar rumah sambil istighfar dan mengucap takbir. Ketakutan akan dahsyatnya gempa ternyata masih tetap menjadi trauma masyarakat Bantul.

Aku bersujud padamu ya Allah....betapa kekuasaanmu tiada bandingnya. Jadikan aku dan keluargamu sebagai hambamu yang senantiasa mengingatmu di setiap desah nafasku....

Kamis, 29 Juli 2010

LELAKI YANG DI PERJALANAN......



Lelaki itu bangun dari tidurnya. Ia memandang istrinya yang sedang terlelap dan mendengkur halus di sebelahnya. Kamar tempat mereka menginap adalah kamar yang tidak terlalu besar. Lantainya terbuat dari kayu dan penataannya pun cukup sederhana. Tidak ada cukup ventilasi tapi suara jangkrik dan tetesan gerimis di dedaunan bisa menerobos masuk membuat suasana yang sangat cocok untuk beristirahat.

Sambil meluruskan punggungnya lelaki itu memandangi pesawat televisi yang masih menyiarkan tayangan ulang gol-gol yang diciptakan kesebelasan Jerman dan Uruguay di babak pertama. Malam itu memang ada perebutan gelar juara III dari pesta akbar Piala Dunia 2010. Ia masih termangu sejenak memandangi sudut kamar. Sajadahnya yang terlipat rapi diatas kursi memanggilnya. Ia beranjak dari sisi tempat tidur yang serasa menahannya pergi, meluruskan kaki dan kedua tangannya. Mengusir penat yang belum sepenuhnya terbayar dengan tidur yang barusan.

Lelaki itu berjalan ke kamar mandi dan menghampiri pancuran air yang memang digunakan untuk berwudhu. Ia memulai niat ingsun dengan berbisik di dalam hatinya “Wahai Tuhan Yang Maha Suci, aku bersuci karena Engkau”, ia mendoakan setiap anggota badan yang dibasuhnya “Ya Allah, perindah paras mukaku sebagaimana Engkau memperindah akhlakku, jadikan perbuatan tanganku perbuatan yang terpuji dan jauhkan dari yang mengundang laknat Engkau, berikan pemikiran dalam kepalaku pada hal-hal yang baik-baik dan jauhkan dari pikiran buruk dan praduga, berikan telingaku pendengaran akan kebaikan dan jauhkan dari mendengarkan keburukan, berikan langkah kakiku pada jalan yang lurus dan terpuji dan jauhkan dari melangkah kepada kesesatan”

Ia berharap air wudhunya mengkristal indah seiring doa, demikian pula cairan tubuhnya yang juga air, akan mengkristalkan nilai-nilai yang didoakannya .. indah .. ia bersyukur ada orang semacam Masaru Emoto yang meneliti ini.

Lelaki itu lantas mengenakan sarung dan kemejanya, bersisir rapi dan mempersiapkan dirinya. Ia menghadap arah sesuai panah di langit-langit kamar itu. Jari-jari kakinya diluruskannya searah dengan arah sajadahnya. Ia akan memulai perjalanannya ..

Ia berdiri di ujung sajadah dengan menatap nanar ke tepi plafon .. seraya menutup matanya ia berbisik lirih : Yaa Allah .. Yaa Rahmaan .. Yaa Allah .. Yaa Rahmaan .. Perlahan tapi pasti dadanya mulai bergetar .. ada rasa yang begitu menohok .. Ia sudah hapal dengan rasa ini .. dipeluknya rasa ini .. didekapnya erat-erat .. dibiarkannya dirinya tenggelam dalam rasa itu bersama-sama makin dalam .. makin dalam .. maaakiiin dalam .. Derr .. rasa itu kembali terasa damai .. Ya Allah aku ikhlaskan rasa ini .. aku kenali .. terima kasih ya Allah .. aku kembalikan ia kepadaMu .. kulit tangannya merinding .. ada yang merambat naik dari ujung-ujung jari kakinya, bukan rasa nyeri .. seperti rasa sadar, rasa sadar bahwa anggota badan itu ada, rasa sadar bahwa dialah yang meliputi anggota gerak itu .. Ucapannya makin lirih .. Yaa Allah .. Yaa Rahmaan ..

Perlahan tangannya mulai bergerak naik menengadah seakan berdoa meminta .. terus .. terus .. rasa sadar itu terus membumbung .. Ia merasakan sedikit demi sedikit ruang berwarna kuning dan coklat itu melebar tanpa batas .. seperti luas .. seperti hening .. Tangannya yang sudah separuh terangkat dihadapkannya ke arah kiblat di dekat kedua telinganya .. Lelaki itu berucap : Allahu Akbar !

Dadanya masih bergetar ketika Ia mengucapkan : Inni wajahtu wajjhiya lilladzi fatharassamawati wal ardha Aku hadapkan wajahku kepada Wajah yang menciptakan alam semesta Rasa sadar itu terus terasa merambat naik .. tapi tak lama .. rasa sadar itu berhenti sedikit diatas uluhatinya Inna shalati, wanusuki wamahyaya wamamatii ..Lillahi Rabbil ‘alamiin .. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.. derrr .. rasa itu bergerak membumbung lagi .. Lelaki itu mulai tenggelam dalam ummul kitab ketika rasa itu terasa lepas dari badannya .. dan berhenti .. berhenti .. tapi tidak diam .. ‘dia’ menunggu .. ‘dia’ menunggu di perbatasan .. di lapisan apakah ini ?

Segala puji hanya diperuntukkan bagi Allah Tuhan Pemelihara semesta alam
Yang Maha Kasih memberi kasih dari segala yang pengasih ..
Yang Maha Sayang melebihi segala yang penyayang ..
Dialah Raja, Dialah Pemilik Hari Pembalasan ..

Hanya kepadaMu aku mengabdi dan memohon pertolongan .. rasa itu bergetar lagi …… ‘dia’ bersiap berangkat .. Tunjukilah aku jalan yang lurus .. Derr .. ia berangkat .. ia berangkat .. bulir air mata berjatuhan di pipi lelaki itu .. seluruh badannya tergetarkan sekarang .. Ia berusaha menahan agar tidak tersungkur .. rasa itu pergi .. ia tahu ‘dia’ dijemput .. dan ia tak berdaya .. jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.. Badan itu berat sekali hendak kembali pada asalnya .. tanah .. seiring dengan berakhirnya surah Al-Ikhlas .. Badan lelaki itu mulai menunduk ..

Di belakang pinggangnya tempat bertumpunya berat badan bagian atasnya .. menjadi sumbu engsel badan yang ditegapkannya .. seluruh pinggang sampai dengan ke lehernya yang dalam posisi rata itu merunduk lurus menghadap bumi tertahan tangannya yang bersandar tegak sedikit membuka pada lututnya .. jari-jari tangannya mengembang .. badan bagian atas itu terasa nyaman sekarang .. tulang belakang di bagian leher berderak kembali menempati tempatnya .. Mata lelaki itu tidak menatap lurus, tapi agak ke depan .. ke sebuah titik di sajadah yang mulai berwarna lebih kusam dibandingkan sekitarnya .. Badannya tidak doyong ke belakang, yang sebenarnya akan enak dari segi keseimbangan .. akan tetapi justru agak ke depan membuat sumbu kaki dan pahanya betul-betul tegak lurus menghunjam bumi .. seluruh otot-otot dibelakang lutut yang ditegakkan itu mengalami tarikan penuh .. ada pegal .. tapi lelaki itu sudah lama melupakannya .. rasa itu lenyap entah kemana sejak ia mengikhlaskannya ..

Posisinya betul sempurna sekarang .. Lantas lelaki itu mengagungkan Allah : Subhana Rabbiyal adziimi wa bi hamdihi .. Lelaki itu hanya menyadari Sang Pemelihara begitu Suci dan Agung .. ia terhenti entah di hitungan keberapa mensucikan dan mengagungkan-Nya Ia diam sejenak menikmati rasa sadarnya yang terus membumbung .. Tak terasa 2 bulir air mata jatuh di sajadah dari pipi basahnya .. Ia tidak peduli lagi dimana ia berada .. semuanya seperti sangat luas .. ia tidak ingin mengetahui .. ia paham ia sudah tidak menggunakan tenaga lagi saat itu .. Lelaki itu tahu rasa sadarnya sudah ‘dituntun’ .. tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain berserah .. bersyukur dengan nikmat itu ..

Lelaki itu bangkit .. Sami’Allahu li man hamidah .. “Allah mendengar siapa hambaNya yang bersyukur ..” badan lelaki itu kembali dalam posisi berdiri .. sikap yang diluar shalat sering dikaguminya sebagai salah satu dari beberapa sikap yang elegan. Dan nyaman. Ia memandang titik itu lagi ..
Sekali ini lelaki itu membiarkan badan tanahnya kembali ke asalnya .. luruh .. tersungkur .. ia merasa ingin bersujud dan menangis di tempat sujudnya .. Badannya luruh seiring lututnya menghunjam lembut .. telapak kakinya juga berdiri tegak dan buku-buku jarinya tetap menghadap kiblat .. Ia tidak pernah lalai mengingat itu .. ia meletakkan jari-jari tangannya menghadap lurus, rapat tidak terbuka sedikitpun .. perlahan dengan punggung yang lurus ia meletakkan kepalanya persis di titik yang sejak awal sudah dilihatnya. Membiarkan perutnya jatuh tidak tersangga paha .. dan bagian leher yang terlemaskan begitu tujuh tulang itu memenuhi permintaan Allah melekat bumi. Perlahan tangan yang siku-siku membentuk rongga yang bisa dilewati anak domba ini telah tegak .. Ia tarik bagian sikunya sejauhnya ke arah kiblat .. ketiaknya benar-benar menganga .. lelaki itu yakin Rasulullah dulu memakai ihram pada saat sahabat melihat ketiaknya dalam posisi itu … nyeri itupun sudah lama tidak ia rasakan .. Ia sudah mengikhlaskannya ..

Ia sudah membasahi tempat sujudnya sebelum sempat meninggikan Allah .. tapi sujudnya sudah sempurna sekarang .. Dalam keharuan yang makin dalam .. ia pun berucap : Subhana Rabbiyal A’laa wabi hamdihi .. Ia hancur .. raga yang terdiri gudang molekul-molekul itu terburai menjadi alam semesta .. bagai es batu dalam wadah air .. dirinya perlahan melebur ke tanah .. rasa sadarnya lebur ke sesuatu yang sama sekali ia tidak punya pengetahuan, tidak paham, tak berbentuk, tak ada hurufnya .. Dia merasa terurai, tapi dia merasa bahagia ..

Lelaki itu bangkit perlahan dengan bertumpu tangannya .. dan kakinya segera membentuk duduk iftirasy, sebuah posisi elegan lagi yang sangat di senanginya .. Dua kakinya menyangga badannya yang tegap tapi tetap merundukkan kepalanya menuju titik itu .. rasa kesadaran itu masih menembus berbagai lapisan .. yang ia sudah tidak bisa pahami lagi .. kadang ia merasa betul-betul sendirian dan kesepian, bukan jenis kesepian yang menggigit .. kesepian yang tenang menyempurnakan .. alangkah indahnya ..

Sering ada kalanya dia terhenti lagi .. saat seperti ini .. ia memanfaatkan duduk antara dua sujud ini sebagai medianya bermohon .. Ia sungguh-sungguh ketika bermohon ampunan .. ia merasa tangan, kaki, mata, telinga dan seluruh tubuh tanahnya menjadikannya tersangka .. Ia merunduk .. lelaki itu tahu ia sedang terhijab karena dosa-dosanya .. dosa kepada ibu bapaknya, dosa kepada sanak keluarganya .. dosa kepada istri dan anak-anaknya .. anak-anaknya .. kembali terbayang baginya betapa ia merubah masa depan anaknya .. dan ia meminta curahan pengampunan dan perubahan .. ia tahu ia ingin menguasai anak-anaknya sebagaimana barang-barang miliknya .. padahal masing-masing anak ini adalah kalifatullah sendiri-sendiri .. ia sudah melancangi Allah .. ia tahu ini menghalangi pencapaiannya .. ia tahu ini membuatnya berhenti melambungkan rasa sadarnya .. bercucuran airmatanya dan tersungkur hatinya .. ia benar-benar membutuhkan pertolongan .. lelaki itu sangat memerlukan uluran tanganNya .. diikhlaskannya semua rasa itu .. rasa ingin menguasai itu .. rasa tidak aman itu .. rasa pengharusan itu .. dan tak lama berselang rasa kesadaran itupun bergerak lagi menggapai lapisan demi lapisan ..

Ia juga meminta dikasihi .. semata-mata hanya karena kasihNya lah yang paling luas .. dan sebagaimana banyaknya kesalahan di masa silamnya, lelaki itu memohon ditutupi keburukan-keburukannya, aib-aibnya .. lelaki itu meminta ditinggikan derajatnya .. sebagaimana janjinya bagi orang-orang yang mendapatkan pemahaman ilmu dariNya. Lelaki itu juga dengan malu memohon rezeki dariNya .. tapi dari mana lagi dia berharap dapat rezeki kalau bukan dariNya .. dia memohon hidayah .. dan kali ini dia mohon dengan kesungguhan, dia sangat ingin memahami ini semua .. tapi rasanya tak ada cara selain dari mengharap hidayah yang datang dariNya .. ia begitu lemah .. Lelaki itu lama mengulang “wahdinii” .. seraya badannya gemetar karena memahami ketiadaannya. Dan dia berdoa demi kesehatannya .. dia menderita linu di pundaknya .. dia menderita sesak yang timbul kadang-kadang .. dia tahu hanya Allah saja yang menyembuhkannya .. dia sangat tahu, dia ingin kesadarannya cukup untuk ditukar dengan pemberianNya .. tapi lagi-lagi ia tidak merasa apapun yang dimilikinya cukup, bukankah miliknya inipun asalnya adalah dariNya? .. dan ditutupnya semua permintaan itu dengan permohonan maaf, permintaan kemakluman bahwa dirinya masih banyak memiliki kebutuhan .. banyak memiliki kekurangan ..

Sekali lagi ia bersujud ..
Sekali lagi ia berdiri ..
Sekali lagi ia ruku..
Sekali lagi ia i’tidal ..
Sekali lagi ia bersujud ..
Sekali lagi ia duduk iftirasy ..
Sekali lagi ia bersujud ..

Dan terus ia merasa bagai mabuk kepayang .. ia membacakan doa yang ia tahu .. ia merasa ini adalah terakhir kalinya ia bisa berdiri menghadap Allah .. ia tidak tahu apakah perjalanannya inipun diterima atau dihempaskan .. ia memanjatkan dengan penuh rasa pasrah .. ia tahu ini mendekati akhir perjalanannya .. ia menghela nafasnya ..

Dan iapun bangkit dari sujud itu .. ia menyusun duduk tawarruk .. duduk tahiyat akhir .. Disinilah pertemuan itu diabadikan .. tapi entah kenapa lelaki itu merasakan ini seperti perpisahan .. mungkin karena ia tidak betul-betul paham .. mungkin karena memang tidak perlu paham .. Lelaki itu mengucapkan segala kemuliaan .. dan Dia memberikan salamNya .. lelaki itu menyahutnya dan tertegun mengingat Rasulullah mengingat umatnya pada kondisi yang demikian egois ini .. di hadapan Yang Maha Meliputi .. dan kala ajalnya sekalipun Rasulullah .. selalu ingat umatnya ..

Kemudian ia bershalawat kepada Rasul yang ummi, tapi sekaligus kotanya ilmu, sebagaimana Rasul yang diberikan kelebihan perenungan alam semesta .. dan keluarganya .. dan akhirnya berpamitan kembali membumi … untuk menyebar rahmat kepada alam semesta .. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ..
Lelaki itu tersadar dimana ia berada .. bunyi jangkriknya masih ada .. tetesan gerimisnya juga sepintas masih sama .. rasa tenangnya yang berbeda .. Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah .. irji’i ila rabbiki radhiyatam mardiyyah ..

Kamis, 08 April 2010

Magetanku yang bikin Kangennnn...







Lama juga tak menginjakan kakiku di Magetan, kota indah tempat aku dilahirkan. Magetan memang kota kecil namun cukup eksotis. Posisinya yang tepat di bawah kaki Gunung Lawu memberikan suasana yang nyaman dan sejuk. Pemandangan sangat bagus dengan Telaga Sarangan sebagai aset wisata yang cukup terkenal.

Saya masih ingat ketika SMA dulu. Oh ya saya alumni SMA Negeri 1 Magetan tahun 1990. Ketika hari Sabtu bersama kawan-kawan sekelas road show ke Sarangan menikmati udara segar dan hamparan hijau pohon-pohon pinus serta sayuran. Suasana memang begitu menggoda malah kian memicu andrenalin kita untuk lebih dekat menikmati telaga Sarangan dengan air birunya yang menggoda.

Ah itu dulu. Sekarang entahlah. Karena begitu lama saya tak pernah ke sana lagi. Tetapi saya masih yakin Magetan masih cantik. Telaga Sarangan masih sangat menawan untuk diterawang. Magetan...pasti aku akan kembali. Tapi kapan? entahlahh.....

Rabu, 07 April 2010

Berita Yang Membuatku Marahhhhh





MagetanKita.com - Sebut saja namanya, Dinda. Kondisi kesehatan perempuan berusia 20 tahun ini, sedang menurun. Sejak hamil, dia belum pernah memeriksakan kesehatannya. Kini, usia kandungan Dinda sekitar 5 bulan.


Dinda hanya terbaring di kamar tidur. Kamar yang pengap, berlantai semen, berdinding anyaman bambu.

“Saya, juga keluarga tak memiliki biaya untuk periksa ke rumah sakit. Untuk makan saja, kami masih kesulitan,” kata Dinda pelan.

Dinda tinggal di Desa Karas, Kecamatan Karas, Magetan bersama kedua orang tuanya. “Saya malu, sampai gak berani untuk keluar rumah sejak anak saya hamil. Di sini kan lingkungannya islam kuat begitu,” kata Bunirah, ibu Dinda.

Dinda hamil setelah digauli tiga perangkat desa, yakni pengurus RT, Kepala Dusun dan Sekretaris Desa. Kemiskinan membuat Dinda terjerumus. “Saya benar-benar terpaksa. Mereka memberi iming-iming uang, sementara keadaan ekonomi keluarga seperti ini,” jelasnya.

Sejumlah kalangan menilai kasus Dinda agak janggal karena sampai tiga orang yang menggaulinya. LSM Forum Peduli Masyarakat Ekonomi Lemah (Formel) menyatakan ada indikasi Dinda diperdagangkan. “Sepertinya Dinda ditawar-tawarkan dari satu lelaki ke lekaki lain. Kok sampai tiga orang perangkat bisa berhubungan dengan dia,” kata Rasimin, Ketua Formil.

Kecurigaan Formil cukup beralasan. Dinda mengaku, selain ketiga perangkat desa, banyak yang coba menghubunginya. “Mereka itu sahabatan. Saya dengar sendiri, kalau saya juga ditawarkan ke orang lain. Banyak yang kontak ke saya,” kata Dinda sambil menyeka air matanya.

Perangkat desa yang mestinya melayani dan menjadi panutan warga, rupanya memanfaatkan kemiskinan yang mendera Dinda dan keluarganya. Kewenangan yang dimiliki digunakan untuk melampiaskan nafsu bejatnya. “Kami mendesak Pemerintah Kabupaten untuk menindak mereka. Perbuatan itu sama sekali tak pantas dilakukan seorang perangkat,” kata Rasimin.

Keluarga kini menuntut pertanggung jawaban agar bayi yang dikandung lahir selamat. “Kami menyadari ketiganya telah beristri. Karena itu, kami tak menuntut anak saya dinikahi. Saya hanya ingin ada yang tanggung jawab untuk persalinan dan biaya pendidikan anak tak berdosa yang sedang dikandung itu,” kata Bunirah.


DUHH..MALU AKU sebagai anak desa karas khususnya Dukuh Sidorejo dengan kasus tersebut. Ternyata perangkat desa bukan memberikan contoh yang baik tetapi malah merusak warganya sendiri yang harusnya dijaga dengan baik. Semoga saja aparat penegak hukum membuka mata terhadap dinda yang notabene orang kecil yang hidupnya susah tersebut.