Sabtu, 02 Maret 2013

Ambisi Yes, Emosi dan Ambisius No!

Pemilu 2014 memang masih menyisakan waktu satu tahun lagi. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh partai politik, baik dengan melakukan ferivikasi faktual partai maupun penyusunan daftar calon legislatif, yang nantinya diusung dalam ajang pesta demokrasi pemilihan umum. Sebagai warga negara yang baik, sudah selayaknya kita harus turut mendukung dan mensukseskan pesta demokrasi itu. Mengapa kita sebagai warga negara harus turut mendukung pelaksanaan kampanye dan pemilu yang damai? Karena, sesuai dengan amanat Pasal 2 ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945, bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, sehingga memiliki makna bahwa rakyat memiliki kedaulatan, tanggungjawab, hak dan kewajiban untuk secara demokratis memilih pemimpin yang akan membentuk pemerintahan guna mengurus dan melayani seluruh lapisan masyarakat, serta memilih wakil-wakil rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Perwujudan kedaulatan rakyat dimaksud dilaksanakan melalui Pemilu secara langsung. Jika mengamati berbagai fenomena politik yang semakin hangat, saya teringat dengan sebuah sticker bonus dari sebuah buku teka teki silang yang pernah saya baca. Isinya cukup relevan dengan kondisi sekarang : Ambisi Yes, Emosi dan Ambisius No! Terus terang, saya sangat tertarik, mengapa? Kalimat itu mengisyaratkan kepada kita untuk harus tetap memiliki semangat mengejar cita-cita, namun harus tetap ditempuh dengan cara yang santun dan elegan. Hidup adalah dinamika, tidak etis jika kita lantas menjadi fatalis, yang hanya pasrah dengan keadaan, menerima hidup dengan apa adanya.Tentu kita semua memiliki visi, harapan, cita-cita, yang hendak kita capai sesuai dengan kemampuan dan norma yang berlaku. Memang, tidak mudah untuk memprediksi perolehan suara bagi seorang caleg, karena keberadaan sistem multi partai yang diselaraskan dengan kondisi ekonomi maupun sikap mental dan politik masyarakat kita. Untuk itu, bagi rekan-rekan yang akan menghadapi “peperangan di padang Kurusetra” nanti, saya hanya bisa menyarankan untuk sejak dini meminimalisir “tekanan kejiwaan” kita. Pertimbangkan dan segera antisipasi dampak terburuk, yaitu kegagalan. Mari sejak sekarang bisa lebih bersikap ikhlas dengan mempasrahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Anggap saja ajang Pemilu sebagai "ajang silaturahmi", karena apapun yang terjadi, kita adalah makhluk sosial. Manusia yang saling bersilaturahmi dalam kebaikan dengan manusia yang lain. Memang, sesungguhnya, "tekanan kejiwaan" seperti ini tidak perlu terjadi, jika kita tidak salah kaprah. Kesalahkaprahan itu terjadi karena kita sudah kehilangan kepercayaan diri, sehingga masih banyak kita yang ingin "duduk" harus menghalalkan segala cara. Padahal, untuk memperoleh "suara" sesungguhnya tidaklah harus selalu dengan uang, melainkan sikap, karya nyata, kepedulian, empati dan simpati. Jika tidak terjadi keseimbangan antara das sollen dan das sein, biasanya memang akan terjadi "penolakan" sebagaimana yang dihadapi oleh beberapa petualang politik yang jatuh terjerembab dalam kubangan ambisius yang membabi buta. Begitu juga akan menimbulkan ekses lain seperti ada yang mencoba bunuh diri karena gagal menjadi caleg, ada calon bupati yang harus masuk Rumah Sakit Jiwa karena gagal memenangi Pilkada, dan masih banyak yang lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Intinya karena rasionalitas sudah hilang, tidak ada keseimbangan antara IQ, EQ dan ESQ. Saya sangat menyadari, betapa banyak tenaga, pemikiran dan biaya (cost atau money) yang telah dikeluarkan. Banyak caleg yang harus rela menggadaikan segenap “aset” yang dimilikinya. Ada juga caleg yang terjerat tindak pidana karena berusaha memenuhi ambisi yang tak terbendung itu. Ambisi boleh saudara, tetapi juga harus realistis. Semoga Sukses!

Selasa, 15 Januari 2013

Selamat Jalan Risa....

TRAGIS memang nasib Risa, gadis kecil yang harus menderita sebelum akhirnya meninggal dunia. Risa yang masih duduk di kelas V SD Negeri Pulogebang 22 Jakarta ini harus mengalami pembusukan pada alat kelaminnya karena dugaan pemerkosaan. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, betapa pilunya derita yang harus ditanggung gadis kecil itu. Kemaluannya bernanah dan membusuk. Bahkan kabarnya sempat berulat karena lambatnya penanganan medis. Maklum, keterbatasan ekonomi yang dialami keluarganya membuat Risa harus menanggung perih dan lara yang tak terhingga sebelum akhirnya menyerah pada takdir. Risa hanyalah sebuah catatan kecil tentang kasus-kasus pelecehan seksual yang menimpa anak-anak kita. Karena di seantero negeri ini, kita tidak pernah tahu berapa ribu anak-anak seperti Risa yang mengalami kepedihan yang sama. Masa depan mereka direnggut dengan paksa. Sebagian beruntung karena masih mampu bertahan hidup dan melanjutkan harapan. Namun yang harus bernasib tragis seperti Risa juga tak terkira jumlahnya. Risa-Risa itu hanya diingat sebentar kemudian hilang ditelan bumi. Mereka tidak memburu popularitas lewat youtube, google atau berita-berita heboh yang mendunia seperti kasus yang dialami oleh Tchuna, seorang remaja India yang bernasib yang sama seperti Risa. Tchuna tewas mengenaskan setelah diperkosa enam pemuda berandalan di negara itu. Sama seperti Tchuna, Risa hanyalah seorang gadis kecil yang juga punya mimpi. Dia juga ingin mengisi hidupnya dengan kegembiraan dan keriangan seperti anak-anak seusianya. Namun kerasnya Jakarta menghapus semua mimpi-mimpi itu. Masa depannya direnggut dengan paksa. Bahkan Risa juga dipaksa membayar dengan penderitaan panjang dan selembar nyawanya. Kita memang marah. Semua memang geram. Darah kita seolah mendidih menyaksikan kepiluan yang dialami Risa akibat perilaku orang-orang dewasa yang dengan tega merenggut kehidupannya. Entah berapa persisnya gadis cilik seusia Risa yang meregang nyawa karena diperkosa secara brutal. Tak pernah ada proses yang terang benderang untuk mengusut berbagai kekejian itu. Kita hanya menyaksikan hari-hari gelap tanpa sebuah kepastian. Dan vandalisme menjadi sebuah makhluk yang kian buas menyeringai di tengah-tengah kita. Hari ini Risa, besok, lusa, entah siapa lagi. Selamat Jalan Risa…..Saya yakin kedamaian akan senantiasa menemanimu di sana.***

Jumat, 11 Januari 2013

Surat Untuk Pak Wali

Salam Sejahtera Nyaris bisa dijamin penuh, bahwa Anda yang kini dilantik jadi penguasa negeri, yang melesat dalam bursa Pilkada Tanjungpinang pada 31 Oktober 2012 lalu, bukan sejenis manusia nekat dan petarung politik kelas ayam sayur. Betapa sebelumnya, nama Anda beredar begitu luas di kalangan masyarakat. Menjadi bahan diskusi di segala pojok kedai kopi dan seantero negeri. Meletupkan rasa penasaran dan spekulasi yang akhirnya menggiring opini publik untuk terus mengamati. Bagai magnet, Anda berhasil menarik semua elemen yang akhirnya terakumulasi menjadi sebuah dukungan yang kemudian menghantarkan Anda dalam posisi seperti saat ini. Saya masih ingat, bagaimana nama Anda bertebaran di segala penjuru negeri pantun ini. Menghiasi tiap ruas ruang publik, entah melalui baliho, spanduk, atau tercetak dengan tinta tebal di koran-koran lokal. Nama (dan wajah Anda) pun begitu familiar, lantaran merangsek masuk ke rumah-rumah penduduk, menghiasi pintu, jendela bahkan cermin di kamar pribadi. Entah dalam bentuk sticker, kalender, atau pamlet. Dalam bahasa ilmu politik modern, nama Anda melesat dalam popularitas yang tak terhingga. Dan popularitas yang Anda raih karena sebuah kerja keras dan kerja hebat. Dan itu sudah Anda buktikan dengan mencapai posisi yang ter, untuk segala kategori. Terpopuler. Paling ter-kenal. Skor ter-tinggi yang akhirnya jadi yang ter-pilih. Operasi politik seperti itu selain butuh kerja keras dan cerdas, pasti pula memerlukan kucuran keringat dan energi yang luar biasa. Tetapi Anda bisa meracik semua itu menjadi sebuah ramuan politik yang membuat masyarakat terpesona dan memberikan dukungan penuh. Publik mafhum sudah. Bahwa langkah operasi politik guna menaikkan popularitas tak bisa dilakukan dengan serampangan. Hanya mereka yang telah terlatih, dengan organisasi modern, bermodal perangkat teknologi informasi canggih, dan bersandar pada metodologi ilmiah, yang mampu melakukannya. Merekalah yang menyandang sebutan manis: konsultan politik. Dan itu Anda gerakan dengan remote control yang sewaktu-waktu terus memberikan laporan setiap perkembangan yang terjadi di lapangan. Atas semua kenyataan itu, sangat patut bagi kami (warga biasa) memberikan apresiasi. Paling kurang, dengan munculnya nama Anda sebagai yang terpilih, maka naluri politik kami kembali punya ruang untuk mengeluh, mengadu dan mengusulkan sesuatu bagi daerah ini agar lebih sempurna di masa akan datang. Pak Wali Yang Terhormat, Pilkada yang kemarin kita laksanakan adalah momentum politik lokal yang multi dimensi. Meletupkan kesadaran politik segala pihak. Olehnya, tak perlu heran bila masa kampanye waktu itu bermunculan rupa-rupa cara dari masyarakat bawah. Mulai dari cara paling sehat, hingga cara paling jahat. Sebagian masyarakat bawah ada juga yang sengaja meletupkan kemarahan-kemarahan. Karena terlalu lama jengkel dengan segala problem dan kerumitan hidup, yang tak pernah terurai dengan jelas. Di lapisan ini pula sering menyembul ancaman-ancaman serius, semacam niat untuk melakukan pembalasan. Jangan abaikan fakta ini. Karena memang sejatinya ajang Pemilu, secara teori, adalah ajang mendelegitimasi status kekuasaan yang tidak berpihak. Pilkada adalah skenario demokratis untuk melakukan rotasi dan pergantian kekuasaan politik. Lalu masih ada lapisan lain yang piawai memanfaatkan momentum untuk tujuan-tujuan spesifik. Kalangan ini berada di golongan kelas menengah. Hati-hati dengan kelompok ini. Selain sangat terdidik, well informed (tahu informasi), juga memiliki jaring-jaring politik yang melebar ke mana-mana. Dan di titik awal seperti sekarang, kelompok ini lah yang menjadi the second media (media lapis kedua), yang mengharu biru segala isu di negeri ini. Di sinilah sebaiknya fokus perhatian Anda harus hadir. Bukan hanya teori komunikasi yang pernah mengingatkan potensi politik kelas ini, yaitu sebagai the persuader (para pembujuk, pembisik, sekaligus tukang kasak-kusuk). Melainkan konteks terkini yang memberikan segala fasilitas yang memanjakan daya dobrak politik kelas menengah ini. Mereka bisa bermain isu dengan memanfaatkan pelbagai wahana dan media. Hitung saja, perkembagan mesin gadget yang bisa dikelola untuk semua jenis media massa. Via gadget, segala urusan tetek bengek kota ini bisa hadir. Teramat mudah saat ini untuk merekam, memanipulasi, menyebarkan, mengolah, mengemas, dan mempopulerkan segala rupa fakta (atau bahkan sekedar isu). Saya yakin, Anda sangat tahu tentang adanya ekspektasi besar di balik posisi Anda saat ini. Karena tak sedikit ekspektasi besar ini disertai “ketidaksabaran” dari masyarakat. Padahal, membuat perubahan di Tanjungpinang tak semudah membalik telapak tangan. Dan sekali lagi, saya sangat yakin Anda juga paham dengan semua itu. Perlahan namun pasti, Anda telah memasuki kontradiksi yang tidak bisa dianggap sepele. Di satu sisi, Anda didorong oleh sebuah ekspektasi sangat besar dari masyarakat. Namun, di sisi lain, Anda berhadapan dengan sejumlah tantangan yang butuh energi untuk menaklukkannya. Banyak orang yang ingin solusi cepat. Yang mereka tahu, ketika kekuasaan sudah ditangan penguasa baru, setiap masalah mereka bisa segera dituntaskan. Mereka kadang tidak tahu bahwa sebuah kebijakan politik sangat dipengaruhi oleh politik atau perimbangan kekuatan dalam kekuasaan. Untuk itu perlu merangkul mereka yang apatis dan skeptis untuk dijadikan sebagai sebuah kekuatan baru kerja sama alias “gotong royong” membangun Tanjungpinang. Anda harus berani meyakinkan rakyat bahwa ‘Tanjungpinang Baru’ memerlukan partisipasi aktif masyarakat karena Anda tidak mungkin bisa bekerja sendirian. Karena esensi “gotong royong” adalah kebersamaan. Wassalam ***

Senin, 26 November 2012

Harinya si Umar Bakri

Ketika bursa tenaga kerja dibuka, berapa orang yang minat untuk menjadi guru? Tidak banyak. Menjadi guru, bagi generasi sekarang, bukan pilihan yang menarik. Bukan sebuah pekerjaan yang diimpikan oleh banyak orang. “Anda keliru kalau menilai guru sebagai pekerjaan,” kata teman saya yang juga seorang guru di sekolah dasar di Tanjungpinang. Teman saya itu, memprotes argumen saya tentang guru merupakan sebuah profesi. Kalau bukan pekerjaan, lantas apa? Teman saya yang sudah 20 tahun mengajar itu hanya menundukkan kepala. Dia sedikit menggumam. “Menjadi guru itu mengandung kerelaan untuk berbakti pada dunia pendidikan,” ujarnya pelan. “Berbakti bukan sebuah pekerjaan. Kalau kita berbakti pada orang tua, berbakti pada Tuhan, apa itu disebut pekerjaan?” katanya lebih pelan lagi. Ungkapan teman saya itu merupakan luapan batin yang sangat jujur. Maklum, sepanjang sejarah bangsa ini memang belum dirasakan penghargaan yang lebih mentereng bagi seorang guru. Sementara dibanyak hal, guru selalu menjadi luapan kesalahan. Murid tidak naik kelas, guru yang disalahkan. UAN gagal, guru dikambinghitamkan. Maraknya tawuran pelajar, guru yang dihearing oleh dewan. Pokoknya, ada ketidakberesan pada murid semua dilimpahkan tanggungjawabnya pada guru. Sementara di sisi lain, nasib guru selalu termarginalkan. Sudah sewajarnya pemerintah memikirkan bagaimana menaikkan derajat para guru dengan memberikan salary yang sangat cukup. Jangan biarkan guru demo, protes dan mogok mengajar karena ‘pendapatan’ yang tidak cukup untuk mengepulkan asap dapur. Kalau peran guru untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sudah semestinya guru juga berpenghasilan seperti dokter, anggota dewan, diplomat, atau bahkan menteri. Di luar negeri, gaji guru sangat tinggi. Mereka naik mercedes benz itu biasa. Guru di luar negeri punya rumah mewah itu hal yang wajar. Di Indonesia? Langsung dituding korupsi dana BOS! Saat ini, guru sudah selayaknya digaji tinggi. Tak usah pura-puralah, banyak juga kok guru-guru kita yang enggan pulang kampung setelah merasakan gurihnya dolar hasil mengajar di luar negeri. Jangan pula malu-malu mengakui, banyak juga kan yang mimpi untuk menjadi guru di luar negeri? Fasilitas lengkap, gaji tinggi, tunjangan besar membuat mereka betah berlama-lama mengajar di sana. Dan hasil kerja mereka diakui. Kalau memang pemerintah bisa dan mau, boleh dong si Umar Bakri merasakan lembutnya tempat duduk Mercedes-Benz. Atau menikmati hotel-hotel mewah dengan menyeruput capucino yang harganya Rp100 ribu secangkir? Mudah-mudahan hari guru 25 November ini bukan menjadi hari yang penuh mimpi buruk bagi para Umar Bakri di tanah air. Bukan hari yang semua mimpi hanya bisa di gantung di langit biru. Hari guru semoga menjadi mimpi baru si Umar Bakri; di dunia naik Mercy, di akhirat pasti lebih nyaman lagi. Pak Guru...Bu Guru...selamat Hari Guru ya..... ***

Senin, 19 November 2012

Politik Nelson Mandela

Dalam politik, ada yang berkorban dan ada yang jadi korban. Berkorban, wajar karena
ambisi politik selalu membutuhkan asupan ‘energi dan gizi’ yang sangat luar biasa. Mau tahu berapa duit untuk menggolkan Barack Obama jadi Presiden Amerika Serikat? Hampir 10 trilyun. Duit sebanyak itu mungkin hanya satu persen yang keluar dari kantong Obama. Selebihnya, para bandar dan cukong yang tak tanggung-tanggung menggelontorkan dolar agar asupan energi dan gizi kampanye Obama tetap mentereng. Tentu, setelah Obama sukses dalam kampanyenya dan terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ada imbal balik yang diterima oleh para pemasok dana. Karena milyaran dolar yang disumbangkan ke Obama bukan seperti sumbangan sembako ke fakir miskin yang ikhlas dan tak berharap apa pun. Mereka para pemasok dana berharap kelak bisa ikut menikmati kekuasaan yang sudah diraih. Hal semacam ini, tak usah jauh-jauh sampai ke Amerika Serikat. Di Kepulauan Riau saja juga buanyak. Terus bagaimana yang kalah dalam pertarungan? Jadi korban pertarungan politik, itu pasti. Biasanya dalam tradisi politik di Indonesia ‘orang-orang kalah’ ini akan terpinggir dan tersingkirkan dari kekuasaan. Kondisi semacam ini sudah menjadi kredo dalam perpolitikan bangsa ini yang berurat dan berakar dari pusat hingga di daerah. Saya masih ingat, gebrakan Nelson Mandela ketika dilantik menjadi Presiden Afrika Selatan pada 10 Mei 1994. Begitu memasuki istana kepresidenan, pertama kali yang dia lakukan adalah mengumpulkan seluruh staf baik yang berkulit hitam maupun yang berkulit putih. Bagi yang berkulit putih tentu berpikiran tentang ketakutan akan disingkirkan dan terpinggirkan dari arena kekuasaan. Sebaliknya, yang berkulit hitam merasa mendapat kesempatan untuk meraih posisi penting karena kekuasaan berada di genggamannya. Tapi apa yang dikatakan Mandela saat itu? Jika Anda ingin pergi, saya tidak akan melarang. Karena hak sepenuhnya ada pada Anda, kata Nelson Mandela. Jika anda merasa tidak bisa bekerja dengan pemerintahan baru ini, maka lebih baik anda pergi. Segera! Namun jika anda berkemas itu karena anda takut karena bahasa atau warna kulit anda atau untuk siapa anda bekerja sebelumnya dan itu menjadi penghalang anda bekerja di sini, saya di sini kata Mandela, untuk memberi tahu anda bahwa tidak perlu takut. Masa lalu adalah masa lalu. Kini kita melihat ke masa depan, kami perlu bantuan anda. Jika anda ingin tetap tinggal, anda akan melakukan pelayanan yang hebat untuk negara anda. Kata Mandela lagi, saya hanya meminta anda bekerja sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan dan dengan hati yang baik dan tulus. Saya berjanji untuk melakukan yang sama. Jika kita bisa melakukan itu, maka negara kita akan menjadi mercusuar dunia. Negara pelangi akan dimulai saat ini. Rekonsiliasi dan pengampunan dimulai saat ini. Pengampunan membebaskan jiwa, menghilangkan ketakutan, itulah alasan yang akan menjadi senjata yang kuat.

Senin, 12 November 2012

Yang Muda yang Menggoda

Kalau anda suka makan malam di luar cobalah sesekali datang ke akau Bintan Plaza. Di tempat yang agak kumuh ini, berdiri berderet-deret warung yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Semuanya ada. Mau sate, bakso, soto ayam, ayam bakar, sop ikan dan lain-lain tinggal pilih. Sekali pesan, tunggu sekejap langsung datang. Pelayan yang cantik-cantik siap menemani anda menyantap hidangan dengan senyum yang tetap mengembang. Ini bukan soal promosi kuliner. Sebab, sesungguhnya tak ada yang istimewa dari kedai-kedai di Bintan Plaza tersebut. Selain rasa yang sama dengan warung-warung serupa di tempat lain, harga juga tidak murah-murah amat. Ya, standartlah. Belum lagi tempatnya yang boleh dibilang kurang higienis karena lokasinya memang tidak bersih sangat. Tapi, tetap saja ada yang berbeda. Pelayan warung ini adalah sosok wanita muda, cantik/manis, tubuh proporsional, dan murah senyum. Tak heran banyak pelanggan datang. Rata-rata anak muda. Orang kantoran, pengusaha bahkan tukang ojek juga banyak. Dulu, saya hampir tiap malam menyambangi daerah yang orang bilang Texas-nya Tanjungpinang ini. Bukan karena apa, ada nuansa lain yang membuat orang kenapa harus datang untuk makan atau minum di Bintan Plaza. Memasang wanita muda dan cantik sebagai pelayan hanya salah satu kiat bisnis. Dan itu dilakukan hampir semua pemilik warung makanan dan minuman di Bintan Plaza. Terbukti, mereka telah menjadi magnet bagi konsumen. Warung-warung dengan pelayan bahenol ini bahkan bisa lebih ramai dari warung lainnya yang benar-benar enak masakannya. Makan sambil menggoda wanita-wanita itu adalah alasan utama kenapa banyak orang mau datang ke Bintan Plaza meski rasa masakannya terkadang nggak jelas. Boleh percaya boleh tidak, tanpa wanita cantik, warung tidak terlalu laku. Coba anda buka warung nasi pecel baru. Pelayannya adalah anda sendiri dan ditambah beberapa pelayan wanita STW (setengah tuwa). Sehari, dua hari, tiga hari, dijamin tidak banyak orang makan di warung anda. Sadar bahwa telah keliru dalam menerapkan ilmu marketing, anda pasti akan banting setir. Anda akan kerahkan wanita-wanita muda nan cantik sebagai pelayan biar pembeli datang dan langganan bertambah.
Pelan tapi pasti orang yang datang ke warung anda akan terus membengkak. Mula-mula warung anda akan ramai, setelah itu.... dijamin ngantri dech! Pelanggan datang bukan sekedar mau makan tetapi ingat senyum pelayannya itu lho yang membuat mereka rela ngantri berjam-jam. Memasang wanita muda dan cantik sebagai pemikat pelanggan ternyata tidak hanya di Bintan Plaza. Ilmu pemasaran sederhana ini ternyata sudah menjadi semacam hukum alam. Di semua kota-kota besar, para pebisnis kuliner juga menerapkan hal yang sama. Bahkan tidak hanya warung makan, pengusaha rokok, jual obat bahkan menjual program partai pun juga banyak yang melibatkan wanita muda, cantik dan hmmm...sexy. Mempekerjakan wanita muda dan cantik sebagai pelayan bukan barang terlarang alias sah-sah saja. Kata pakar pemasaran, itu merupakan bagian dari strategi penawaran.Tanpa penawaran yang hebat, bisnis tidak akan terjadi. Dan, wanita cantik pelayan itu adalah salah satu bentuk penawaran yang cukup berhasil. Sama seperti warung-warung dan kedai di Bintan Plaza. Tanpa perlu promosi kemana-mana, penawaran tak tertulisnya telah menghipnotis para konsumen. Tiap hari pengunjung berjibun di daerah itu. Biar tempat sedikit jorok, siapa yang tak mau menikmati secangkir kopi plus senyum aduhai si pelayan yang manis itu…..? ***

Sabtu, 13 Oktober 2012

Asrinya Desa Berakit dan Malang Rapat

Menyusuri tempat-tempat wisata di desa Berakit Kecamatan Telok Sebong dan desa Malang Rapat kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan serasa kita memasuki sebuah perkampungan yang asri nan sejuk. Maklum saja tempat-tempat wisata di dua desa tersebut terutama yang satu jalur arah Desa Berakit lokasinya memang jauh dari kebisingan kota. Tempat-tempat wisata tersebut hampir semuanya tersebar di pinggir-pinggir pantai dengan kondisi bangunan yang betul-betul alami.
Untuk masyarakat Tanjungpinang dan Bintan pada umumnya tidak asing dengan tempat-tempat wisata di dua desa itu. Pantai Trikora yang selama ini menjadi tujuan wisata keluarga masyarakat Tanjungpinang dan Bintan hanyalah salah satu tempat wisata yang ada di daerah tersebut. Pemkab Bintan sendiri sudah mengembangkan tempat wisata Pantai Trikora tersebut menjadi empat lokasi yakni Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3 dan Trikora 4.
Sementara yang dikelola langsung oleh Pemkab Bintan melalui Dinas Pariwasata hanya Trikora 4. Selebihnya diserahkan ke swasta dan masyarakat dalam pengelolaannya. "Biar masyarakat ikut menikmati langsung keuntungan dari sektor pariwisata,” kata Bupati Bintan Ansar Ahmad ketika mengajak kami berkeliling ke tempat-tempat wisata yang ada di Telok Sebong dan Gunung Kijang, Jum’at (12/10)lalu. Hari Jum'at lalu kami berempat yakni Pak Bupati Ansar, Ketua STAI Tanjungpinang Nazaruddin, Saya dan Suherman menghilangkan kejenuhan dengan melihat-lihat perkembangan tempat wisata di desa Berakit dan Malang Rapat. Selain pantai Trikora beberapa resort yang tumbuh subur di dua kecamatan tersebut adalah Bintan Agro Resort, Pondok Peranginan Sandy, Mutiara Beach Resort, Serumpun Padi Resort, Bintan Bukit Kursi Resort, Danur Resort dan Saung Kasandra Resort. Selain itu ada juga tempat-tempat peristirahata skala kecil yang tersebar di sepanjang pantai desa Berakit dan desa Malang Rapat dengan bangunan pondok-pondok kecil eksotik yang beratapkan daun rumbia. “Masyarakat diberi kebebasan untuk mengelola tempat-tempat peristirahatan skala kecil di Berakit dan Malang Rapat. Yang penting bisa membantu menumbuhkan perekonomian mereka,” kata Pak Ansar.
Menuju tempat wisata di Berakit dan Malang Rapat bukan perjalanan yang susah. Dari Tanjungpinang sekitar 60 kilometer dengan menempuh perjalanan kurang lebih selama 30 menit. Lokasinya cukup asri, tenang dan nyaman bagi mereka yang menggandrungi wisata keluarga. Tempat wisata ini dihiasi pasir pantai yang putih bersih dengan air laut yang jernih. Suasana perkampungan dengan udara yang bersih serta keramahan penduduk setempat merupakan pilihan ideal bagi mereka yang ingin membawa keluarga menghabiskan akhir pekannya di tempat wisata tersebut. Namun sayangnya geliat wisata di Berakit dan Malang Rapat hanya terasa kalau pas akhir pekan. Hari Sabtu dan Minggu memang ribuan masyarakat Tanjungpinang dan Bintan tumpah ruah ke tempat wisata ini. Namun di hari-hari biasa mulai Senin sampai Jum’at kondisinya sepi dan jarang ada pengunjung. “Kami baru sibuk kalau pas hari Sabtu atau Minggu. Pengunjung banyak yang datang sehingga kami juga menyiapkan dagangan kami untuk kami jual kepada para wisatawan,” kata Murni, salah seorang warga di Desa Berakit. Murni bersama suaminya menjual minuman kelapa muda dan aneka makanan ringan di Trikora 3. Untuk sehari berjualan Murni bisa mendapatkan Rp 500 ribu sampai satu juta. “Lumayan sebenarnya kalau bisa ramai terus. Tetapi kalau hari-hari biasa begini kami ke laut mencari ikan karena mau jualan di Trikora 3 pengunjungnya jarang,” jelas ibu dua anak ini. Kepala Desa Berakit, Nazar Talibek, juga mengatakan hal yang sama. Sepinya pengunjung di luar akhir pekan memang menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakatnya. “Tetapi kita maklum juga, karena kebanyakan wisatawan yang ke tempat kita ini adalah masyarakat lokal di Tanjungpinang dan Bintan. Ke depan kita optimis akan semakin ramai meski di hari-hari biasa. Apa lagi kalau pelabuhan fery terminal sudah dinaikkan statusnya menjadi pelabuhan internasional,” jelas Nazar Talibek. Dengan beroperasinya pelabuhan internasional fery terminal Berakit maka akan banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Berakit. Apa lagi Pemkab Bintan terus melakukan berbagai upaya dalam memajukan tempat wisata di daerahnya itu. “Semua infrastruktur jalan sudah dibaguskan semua. Pelabuhan internasional sudah disiapkan. Fasilitas penunjang lainnya juga sudah sangat bagus. Kami berharap upaya pemerintah daerah ini nantinya akan meningkatkan kunjungan wisatawan di daerah kami,” jelas Pak Kades.